Selamat Datang di blognya Ummi Hana!

Rabu, 07 Maret 2012

Kisah inspirasi untuk para istri dan suami


Kisah ini diambil dari novel yang berjudul Belenggu Cinta Suamiku. Semoga peristiwa di bawah ini membuat kita belajar bersyukur untuk apa yang kita miliki :

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.


Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.

Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. 

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”

Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Senin, 05 Maret 2012

Rapor Kedua Hana di Daycare

Rapor kedua Hana dikasih seminggu setelah Rapor sebelumnya.. 

Ini nih rekapannya :

Nama           : Hana Nisa
Hari/Tanggal : Rabu, 18 Januari 2012

Alhamdulillah Hana dah senang dan mengikuti kegiatan yang ada di daycare.. Dia juga dah mulai mengenal teman-teman di daycare.. 

hihihi... Masa' pas temen-temennya lagi senam Hana malah bobo'...^_^  Minggu ini prakaryanya bikin melipat kertas jadi perahu trus gambar ikan... Seneng banget deh Hana... Sampe sekarang diabadikan tuh hasil karya Hana di dinding tembok rumah kami..


Jumat, 02 Maret 2012

Assalamualaikum

"Accalamuaikum Accat.."
(Assalamualaikum Arsyad..)

"Accalamuaikum Nijam.."
(Assalamualaikum Nizam..)

"Accalamuaikum Hana.."
(Assalamualaikum Hana..)

"Accalamuaikum Bunda Mia.."
(Accalamuaikum Bunda Mia..)


Itu lagu baru yang dinyanyikan Hana waktu kami jemput Hana di daycare kemarin... Pas kudenger lagi nada lagunya sama kayak nada lagu "Nona cantik siapa yang punya".

Setiap minggu pasti adaaa aja lagu baru yang dinyanyiin Hana.. Kayak waktu itu, Hana nyanyi "naik... turun... naik... turun... naik... turun... sepanjang hari..." Gak tau tuh Hana nyanyi apaan..hihihi...

Setiap kali perjalanan dari daycare ke rumah, kita berdua pasti nyanyi bersama... Kadang-kadang Hana pengennya nyanyi sendiri.. Setiap aku barengin dia nyanyi pasti dia bilang "Hana aja.." ^_^

Itulah salah satu kelebihan nitipin Hana di daycare.. Hana belajar kalimat toyyibah lebih sering di daycare karena kalo di daycare sambil dinyanyiin...lebih fun jadinya...

Rabu, 29 Februari 2012

Gombalan Ayah

Semenjak si ayah suka nonton acara Comedy Project di trans tv, tiba-tiba si ayah mulai keranjingan suka ngegombal.

Terinspirasi Deni cagur waktu bawain acara "GOMBAL GEMBEL" tuuuh... Tapi ini versi si ayah.. dia suka ngarang2 sendiri..

Waktu itu kita lagi pergi keluar buat beli stok susu uht buat Hana...
Waktu si ayah mau parkirin motornya, bunda mau turun dari motor, ayah tiba-tiba bilang...

"Bun, bunda gak capek ya?"

Kupikir si ayah mau ngajak kemana ato mau nyuruh ngerjain kerjaan apa gitu... Udah siap-siap aja..

"Enggak yah... emang kenapa?"

"Abis dari tadi bunda lari-lari terus di pikiran ayah..."

Eeeeeeeaaaaaa..... Gubraaaak... Si ayah bisa aja niiih...^_^

Gak papa deh yah.. Asal jangan gombalin cewek lain aja yaaaa...

Selasa, 21 Februari 2012

Puisi Pak BJ Habibie untuk Ibu Ainun

Untuk postingan kali ini, sebenarnya saya hanya ingin menyimpan saja puisi ini biar bisa dibaca kapan saja... Soalnya puisi ini menyentuh banget.. Cinta Pak BJ Habibie - Ibu Ainun so sweeet bgt...

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya,
dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang,
rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku ….

BJ.HABIBIE

Selasa, 10 Januari 2012

Rapor Pertama Hana di Daycare (Laporan Perkembangan & Kegiatan Hana)

Setelah seminggu Hana di daycare, kemarin aku terima laporan perkembangan & kegiatan Hana selama di daycare.. Kata Bunda Yulis sih biasanya laporan kegiatannya harian, tapi karena kesibukan pindahan, jadi rapornya Hana baru sempat dibikin setelah seminggu di sana..

Ini dia rekapannya :

Nama           : Hana N
Hari/Tanggal : Senin, 9 Jan 2012
Tema            : kendaraan


Kegiatan yang dilakukan hanya sebagai pengenalan, jadi tidak ada paksaan anak harus mengikutinya... Pengenalan huruf hijaiyah juga pertama dikenalkan melalui kartu bergambar huruf hijaiyah..

hihihi....Hana masih belum bisa ngikutin ternyata... Tapi dah bagus lah masih dalam tahap memperhatikan dengan seksama.. Tingkatkan prestasimu ya naaaak...^_^

Seminggu di Daycare Hana Anget

Seminggu di daycare Hana kayaknya dah mulai kecapekan, alhasil malem Sabtu kemarin Hana anget badannya trus agak belekan juga matanya.. Selain karena 2 hari sebelumnya setiap pulang dari daycare pasti selalu hujan, kayaknya Hana masih kaget sama rutinitas barunya ini.. Kebayang aja capeknya Hana dari mulai bangun jam 5 pagi, trus mandi, kuanter pake motor, ntar sore dijemput lagi..

Hhhhh...kadang kasian sama Hana kalo dia dah mulai agak susah dibangunin n dimandiin.. Kadang pengen cepet2 punya pembantu, tapi keinginan titipin di daycare membuat kami bertahan (selain karena emang belum dapet pengasuh jg).. Untungnya Hana gak terlalu rewel kalo dibujuk jalan2 pasti dia semangat banget...^_^  Selain itu, kalo di daycare karena anak2 masih sangat sensitif penyakit anak2 mudah sekali menular..  Itulah beberapa  resikonya kalo Hana dititip di daycare, memang pengasuh sama daycare ada positif negatifnya jg..

Sebetulnya aku agak khawatir gimana keadaan Hana nanti di daycare... takut rewel... takut nangis terus.. takut ngerepotin pengasuhnya di daycare.. Sempet terpikir aku gak masuk kerja aja biar jagain Hana... Tapi akhirnya kutitip juga di daycare.. Pikirku, liat keadaan dulu aja, kalo misalnya masih anget & ngerepotin pengasuhnya, nanti kujemput aja siang hari..

Akhirnya selama di kantor kutelpon aja Bunda Yulis... Kata Bunda Yulis Hana main seperti biasa, cuma tadi Hana muntah 2 kali sama sarapannya dikit... Alhamdulillah aku agak lega.. Makasih Bunda Yulis sama bunda2 lainnya.. Akhirnya sekarang setiap pulang dari daycare kusempatkan dulu pijit seluruh badan Hana pake minyak but2 buar gak terlalu capek.. Mudah2an ini karena Hana masih adaptasi sama rutinitas barunya aja.. Mudah2an kedepan udah nggak lagi.. Amiin...

Rabu, 04 Januari 2012

Hari pertama Hana di daycare

Setelah uji coba kemarin, akhirnya mulai 3 Januari 2012 aku mulai titip Hana full day... Mulai dari persiapan pagi yang agak merepotkan.. Untungnya beberapa dah kusiapin dari semalem, kayak : baju ganti, diapers, cemilan, buah, susu sama botol susu. Jadi pagi2 aku cuma nyiapain sarapannnya Hana aja, sekalian buat sarapan kami berdua... Jam 5.15 aku mau bangunin Hana, eeeeeh...anak bundanya dah bangun sendiri, pinter banget..^_^  Trus langsung kumandiin... Kasian juga Hana...biasanya bangun jam 6 mandi jam 7, sekarang harus mandi jam 5.15... Ayo semangat anak bunda...biar bundanya juga semangat...^_^

Sebelum berangkat, kuajak ngobrol dulu Hana, kalo ayah sama bunda kerja...Hana main sama temen2 di sekolah ya... Hana cuma bilang iya.. Kalo kutanya "Hana main apa di sekolah?" Jawabannya "bola, obil, ma ocotkan" (maksudnya bola, mobil, sama perosotan..). Kalo kemarin aku pergi diem2 ninggalin daycare, hari ini Hana pinter banget.. Pas kita mau pergi, Hana salim sama aku sama ayahnya..^_^ Seneng & jadi tenang ngeliatnya.. 

Selasa, 03 Januari 2012

Uji coba Hana di Tsabitha Daycare

Setelah mencari2 daycare di Depok, akhirnya kami memutuskan menitipkan Hana di Tsabitha Daycare.. Kami mulai uji coba (hihihi..kayak kelinci aja..) nitipin Hana di sana mulai hari Senin, 2 Januari 2012.. Sebetulnya kami mulai masuk kerja lagi 3 Januari 2012.. Tapi, biar Hana gak begitu kaget n kenalan sama tempat barunya & biar akunya tenang juga pas kerja besok, akhirnya kita uji coba dulu...

Pertama nyampe disana Hana diem aja ngikutin aku masuk... Trus, pas aku suruh main bola sama temen2nya dia malah nangis... Haduuuuh...aku jadi ikutan melow nih... Jd gak tega jg,, gmn nanti kedepan kalo masih rewel n blm betah jg... Aku mencoba menyelami perasaan Hana.. Gmn rasanya ketemu sama orang baru yang belum dikenal sama sekali.. Dan ngebayangin perasaan Hana ditinggal sama orang yang baru dikenal.. 

Akhirnya di hari pertamanya aku temenin dulu Hana main sebentar..Kuajak Hana main perosotan, karena ini mainan kesukaan Hana.. Biar Hana ngerasa nyaman dulu sama lingkungan barunya.. Pengennya  kutemenin Hana setengah hari, tapi kata pengasuh di Tsabitha gak baik buat Hana-nya, nanti malah tambah ketergantungan sama  bundanya.. Kupikir bener juga... Lama-kelamaan Hana mau main sama pengasuhnya... Akhirnya setelah asyik sama mainannya kami diam2 pulang...

Dalam benak selalu terpikir Hana lagi ngapain ya disana??? Aku selalu meyakinkan diriku Hana baik2 aja disana.. Kutelpon Bunda Yulis, katanya Hana makannya banyak... Aneh, biasanya kalo di rumah nih susaaaaah banget makannya... 5 suap nasi aja udah untung... Mungkin karena banyak temen yang ikut makan juga jadinya makannya banyak... Trus katanya juga gak mau bobo', pengennya main aja... Sama bunda yulis diturutin aja biar Hana nyaman dulu katanya.. Sama bunda yulis dikasih aja bantal di sebelahnya... Akhirnya bunda yulis nepuk2 Hana dipangkuannya sampai Hana tertidur... Makasih Bunda Yulis, Bunda Maya, sama bunda2 lainnya..^_^ 

Akhirnya waktu penjemputan tiba.. Baru aja aku ketok pintu Tsabitha, Hana langsung nangis liat aku.. Duuuh,,,anak bunda nih... Trus salah satu pengasuh di Tsabitha nanya ke aku "bun, Hana suka tempe ya??" Hah, Hana suka tempe??? Aku aja gak tau, gak jelas Hana sukanya apa, soalnya makan aja susah..Baru tau juga kalo Hana suka tempe..^_^. Mudah2an besok Hana gak rewel lagi... 

Minggu, 01 Januari 2012

Hati-hati ya cicak....

Suatu hari, waktu aku sama Hana jalan-jalan, Hana terjatuh... Lalu secara spontan aku raih Hana... Hebatnya anakku ini dia gak nangis... Trus aku bilang ke Hana "Hana....kalo jalan hati2 ya....".

Trus, beberapa hari kemudian, waktu kami di rumah, ada seekor cicak lagi jalan di dinding... Tiba2 Hana nyeletuk "cicak...hati2 ya..."  Dengan perasaan kaget campur geli denger Hana bilang kayak gitu, aku pun nyeletuk juga "iya cicak...kalo jalan harus hati2 ya..." Subhanallah...ternyata Hana menyerap kata2 yang aku ucapkan...

Begitulah anak kecil...cepat menyerap setiap kata yang mereka dengar... Karena itu, kita sebagai orang tua harus hati2 juga dengan kata2 yang kita ucapkan di hadapan anak2...